HALAMAN DAUR ULANG CINTA KASIH
Showing posts with label Go Green. Show all posts
Showing posts with label Go Green. Show all posts
Monday, December 5, 2011
SELAMATKAN BUMI DEMI MASA DEPAN
Tuesday, October 4, 2011
BAHAYA SAMPAH PLASTIK
Mari Kurangi Penggunaan Kantong Plastik
“Did you know that every single
piece of plastic that was ever made still exists on this planet? Toxic to make,
use and never goes away!”
Sering kali kita tidak menyadari setiap kali
kita pulang dari pasar atau dari tempat perbelanjaan kita selalu membawa pulang
barang belanjaan kita yang dikantungi ke dalam kantong–kantong plastic yang
warna warni dari plastik yang berukuran kecil hingga yang besar begitu juga dengan
bungkusan produk-produk yang kita beli, tapi kita selalu meremehkan
plastik-plastik tersebut, kita tidak mesadari bahwa plastik yang kita bawa pulang
itu adalah Salah satu faktor yang menyebabkan rusaknya lingkungan hidup kita.
Lalu apakah anda tahu bahaya apa saja yang disebabkan kantong
plastik bagi lingkungan hidup kita........?
- Plastik sangat sulit hancur secara alami dan juga sulit didaur ulang. Setiap sampah plastik yang dibuang, baru akan hancur dalam waktu 200-400 tahun! secara terdekomposisi atau terurai dengan sempurna. Ini adalah sebuah waktu yang sangat lama. Saat terurai, partikel-partikel plastik akan mencemari tanah dan air.
- Walaupun murah bahkan sering diberikan gratis, plastik dibuat dengan menggunakan minyak bumi. Sumber energi yang mulai langka dan sangat dibutuhkan manusia. Di Inggris saja, diperlukan 2 milyar barel minyak untuk industri kantong plastik. Pada akhirnya minyak yang terpakai terbuang sia-sia karena kantong-kantong plastik itu hanya dipakai sekali-dua kali lalu menggunung di tempat penampungan sampah, mencemari lingkungan.
- Sampah plastik sangat berbahaya buat beberapa jenis hewan. Di Australia tercatat lebih dari 100.000 hewan yang terdiri dari burung, ikan paus, anjing laut dan kura-kura, mati per tahunnya gara-gara menelan atau terbelit sampah plastik. Parahnya lagi, setelah badan hewan yang mati telah terurai, sampah plastiknya akan terbebas lagi ke alam.
- Membakar sampah plastik menyebabkan zat-zat beracun dari sampah terlepas ke udara yang kita hirup. ini merupakan dampak serius karena sampah plastik akan menghasilkan asap beracun yang berbahaya bagi kesehatan yaitu jika proses pembakaranya tidak sempurna, plastik akan mengurai di udara sebagai dioksin. Senyawa ini sangat berbahaya bila terhirup manusia. Dampaknya antara lain memicu penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf, melemahnya kekebalan tubuh dan memicu depresi dll.
- Plastik tersusun dari polimer. Dalam proses pembuatannya, ikut dimasukkan sejenis bahan pelembut (plasticizers) supaya plastik bertekstur licin, lentur dan gampang dibentuk. Tapi kalau plastik dipakai buat bungkus makanan, plasticizers bisa mengkontaminasi makanan. Apalagi kalau makanan yang dibungkus masih panas, si plasticizers dan monomer-monomernya makin cepat keluar dan pindah ke makanan lalu masuk dalam tubuh.
- Kantong plastik kresek yang biasa kita pakai sehari-hari ternyata mengandung zat karsinogen berbahaya karena berasal dari proses daur ulang yang diragukan kebersihannya. Zat pewarnanya juga bisa meresap ke dalam makanan yang dibungkusnya dan menjadi racun.
- Sampah plastik dari sektor pertanian dunia setiap tahunnya mencapai 100 juta ton. Kalau sampah plastik ini dibentangkan, panjangnya bisa membungkus bumi sampai sepuluh kali.
Jadi
ingat, jangan membakar sampah plastik karena jika sampah itu di bakar racun
yang ada dalam sampah tersebut akan membuat polusi di udara termasuk pada udara
yang kita hirup yang dapat membuat kita sakit. Jangan mengubur sampah plastik
karena racun yang ada di dalam sampah akan meresap atau merembes kedalam tanah
dan membuat air yang ada dalam tanah akan tercemar begitu juga lingkungan di
sekitarnya. Jangan membuang sampah plastik, karena racun yang ada dalam sampah
dapat mencemari lingkungan di sekitar kita, makhluk hidup dan lingkungan kita
akan mengalami kerusakan dan racun akan terus bertambah dimana-mana.
Mungkin agak sulit menjauhkan hidup kita dari
penggunaan plastik sebagai kebutuhan sehari-hari, tapi menurut saya paling
tidak kita bisa berusaha untuk meminimalisir penggunaan plastik, banyak
cara yang bisa kita lakukan seperti :
1. Membawa sendiri kantong
belanja seperti tas kanvas, tote bag, apalagi sekarang banyak dijual tas
belanja dengan design menarik :)
2. Tidak meminta kantong plastik saat
berbelanja dalam jumlah kecil, lebih simpel jika dimasukkan dalam tas.
3. Jika sudah terlanjur menerima, simpan
dan lipat dengan rapi. setelah itu anda boleh sumbangkan atau serahkan kembali ke
bagian yang bisa mendaur ulang sampah plastic tersebut.
Salah satu hal yang saya perhatikan ada sebagian Negara supermarket mereka
adalah dikenakannya biaya jika konsumen meminta lebih kantong plastik,
Kemudian saya membayangkan jika
kebijakan seperti ini diterapkan di Indonesia, mungkin diperlukan
sosialisasi yang lebih ekstra. Hehehe, bukan bermaksud skeptis, hanya
mungkin saja akan ada anggapan dari segelintir orang "cuma 500 perak aja kok...,
ya ga apa-apa lah?!" Hemm, ini bisa jadi tantangan untuk kita semua
mengajak orang lain agar lebih peduli terhadap lingkungan kita.
Menurut
saya, gaya hidup ramah lingkungan itu mudah kok asal diniati dan konsisten aja…
kalo sesuatu dilakukan lebih dari 30 kali secara berturut-turut nanti bisa jadi
kebiasaan kok. Sekecil apapun kontribusi kita dalam menjalani hidup yang
lebih “green” pasti akan berdampak terhadap bumi ini. Apalagi kalo yang kasih
kontribusi itu banyak orang, bayak institusi, akan makin signifikan dampak
positifnya bagi bumi yang hanya satu ini.
Semoga posting kali ini bermanfaat bagi kita semua....dan mari kita sama-sama menyelamatkan bumi kita. demi masa depan anak cucu kita.
Semoga posting kali ini bermanfaat bagi kita semua....dan mari kita sama-sama menyelamatkan bumi kita. demi masa depan anak cucu kita.
Thursday, September 22, 2011
MERAWAT BUMI DEMI MASA DEPAN
Bumi kita terletak di urutan ketiga, sebuah planet yang paling dekat dengan matahari dalam sistem tata surya, planet bumi terus menuai usianya. Seiring dengan pertumbuhanya usia, beban yang harus ditanggung bumi juga terus bertambah. Menurut data yang di keluarkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), bumi kini dihuni lebih dari 7 milyar penduduk. dan 45 tahun kemundian, pada tahun 2050, PBB memperkirakan jumlah penduduk akan melampaui 9 milyar. Bisa kita bayangkan betapa planet bumi, yang di perkirakan para ilmuwan sudah berusia lebih dari 4,5 milyar tahun ini, harus menghadapi tantangan yang teramat berat. Bagaimana isi bumi mampu mencukupi kebutuhan perut 9 milyar manusia, dan bagaimana bumi bisa menyediakan tempat berteduh bagi 9 milyar manusia. Dan sebuah laporan baru menyerukan pengelolaan air dan pangan yang lebih
baik karena pertumbuhan populasi dunia telah menekan sumber daya alam. Laporan PBB yang dirilis 19/09/2011 Senin itu mengatakan lebih dari 1,5 miliar
orang kini hidup di kawasan yang langka air. Namun, kata laporan itu,
jika jumlah manusia meningkat dari jumlah sekarang, yakni tujuh miliar,
ke sedikitnya sembilan miliar, sebagaimana diperkirakan akan terjadi
pada tahun 2050, lebih banyak orang akan kekurangan air dan pangan. dan kita sebagai manusia yang bijaksana seharusnya menjadi pertanyaan sederhana bagi kita semua unutk segera merenungkan dan bertindak.
Di tahun 2011 ini saja, bumi terlihat sudah sangat kewalahan dengan tingkah laku 7 milyar penduduknya. Demi memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia, bumi harus rela berkorban, terus dieksplotasi hingga jauh di atas batas kemampuannya. Hutan terus di tebang hingga areanya terus meyempit. Rawa dan pantai terus di reklamasi untuk mencukupi kebutuhan pemukiman. Penggunaan teknologi dan bahan bakar yang tidak bersahabat dengan bumi terus mencemari udara yang di hirup manusia. Umat manusia pun terus berlomba, kerap dengan kekerasan dan mengorbankan sesamanya demi memenuhi hasratnya. Haruskah manusia terus menguras kekayaan bumi dengan seenaknya? Haruskah manusia terus menyakiti sesama manusia agar dapat memperoleh hak menguras bumi yang lebih luas? Haruskah gaya hidup yang menghancurkan ini terus berlanjut?
Subscribe to:
Posts (Atom)


